UTS E-COMMERCE MARIA ULFA - 057

Perilaku berbelanja online sudah menjadi kebiasaan banyak orang, terutama di tengah kondisi pandemi seperti saat ini. Apalagi Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.  Hal ini dapat dibuktikan melalui data menurut Wearesocial dan Hootsuite, sekitar 90% pengguna internet di Indonesia pernah berbelanja online. Pada tahun 2019, nilai kapitalisasi pasar e-commerce di indonesia mencapai USD 21 miliar atau sekitar Rp 294 triliun.


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia. Salah satu faktornya yaitu meningkatnya daya beli masyarakat Indonesia untuk belanja secara online. Hal tersebut didukung oleh pengguna internet yang terus meningkat, baik itu di kalangan anak muda hingga dewasa. Ini memungkinkan lebih banyak orang untuk mengakses berbagai platform belanja online, mulai dari aplikasi market place, website toko online dan masih banyak lagi.


Platform belanja online juga telah dipermudah dengan adanya dalam bentuk aplikasi yang bisa di install pada handphone, jadi konsumen tidak perlu mengakses melalui website dimana perlunya log in dan log out akun. Melalui aplikasi yang dapat di download secara gratis, konsumen tidak perlu kesulitan untuk log in ataupun log out, karena ketika konsumen telah log in di awal, akun tersebut tidak akan ter-log out secara otomatis. Jadi, ketika akan berbelanja online melalui aplikasi, bisa langsung memesan tanpa perlu log in kembali.


Perusahaan teknologi finansial yang semakin banyak turut berpengaruh pada berkembangnya e-commerce di Indonesia. Hal ini dikarenakan metode pembayaran yang akan ditawarkan kepada konsumen menjadi lebih banyak dan beragam. Dengan adanya berbagai macam aplikasi ataupun fitur yang dapat digunakan seperti dompet online, sangat membantu bagi konsumen yang tidak memiliki rekening bank. Itu menjadikan tidak ada kesulitan atau alasan bagi konsumen untuk tidak berbelanja online dengan segala kemudahan yang telah ditawarkan. 


Dunia teknologi yang semakin canggih membuat e-commerce menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Maka tak heran jika banyak investor asing maupun dalam negeri untuk menanamkan modalnya di perusahaan teknologi e-commerce


Menyadari hal itu, bukan hanya brand-brand besar yang mulai memainkan bisnisnya secara online, tidak sedikit bisnis rumahan yang turut mengembangkan usahanya melalui online pula. Terutama di masa pandemi, bisnis rumahan yang biasanya menjual dan memasarkan produknya secara langsung/offline menjadi tidak bisa melakukan hal itu karena terbatasnya orang-orang untuk berkumpul di satu ruangan dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, keadaan memaksa untuk mencari solusinya bagaimana tetap bisa menghasilkan uang di masa pandemi dengan tetap berjualan. Salah satu solusinya yaitu dengan beralih memasarkannya ke online, karena konsumen tidak perlu berdesak-desakan ketika ada diskon besar dan tidak perlu bertemu banyak orang hanya untuk membeli yang dibutuhkannya. Bahkan, tidak sedikit yang mampu berkembang dengan berjualan secara online. Hal tersebut kembali lagi seperti yang sudah disampaikan diatas karena konsumen sudah terbiasa untuk berbelanja hampir semua kebutuhannya secara online.


Dunia bisnis secara online yang semakin pesat, membuat peluang netpreneurship terbuka sangat luas. Netpreneurship adalah seorang yang berwiraswasta dengan memanfaatkan perkembangan dunia teknologi seperti internet. Biasanya yang sukses menjadi netpreneurship merupakan orang-orang yang Introvert dimana mereka malas untuk bertemu orang lain secara langsung. Dengan adanya internet dimana memudahkan beberapa orang untuk melalukan kegiatannya secara online, akan mengurangi intensitas untuk bertatap muka secara langsung. Hal ini yang menjadi peluang bagi-bagi orang introvert untuk tetap bisa sukses. Sebagai contoh, seseorang yang sukses karna sikap introvert-nya dan dapat dijuluki sebagai netpreneurship yaitu Mark Zuckenberg dimana dirinya mampu menjadi salah satu orang terkaya dengan mendirikan Facebook. Jadi, bukan tidak mungkin dengan berkembangnya dunia e-commerce akan melahirkan Mark Zuckenberg yang lain.


Kemudahan dalam berbisnis melalui e-commerce mengakibatkan peluang untuk menjadi netpreneurship menjadi hal yang memungkinkan. Karena beberapa orang dapat dengan mudah untuk berjualan secara online. Bahkan, mahasiswa atau karyawan yang ingin menambah penghasilan sangat cocok untuk berjualan barang-barang melalui market place seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan masih banyak lagi. Karena dengan berjualan online, tidak terbatas oleh waktu dan tempat, dapat di akses kapan dan dimana saja. Berawal dari memahami cara membuka toko secara online, lalu membuat hingga menjalaninya dengan serius karena penghasilan yang didapatkan mulai stabil dan bisa lebih maksimal jika terus dikembangkan strategi pemasarannya terutama dari segi brand awareness produknya. Hal tersebut dikarenakan konsumen tidak melihat atau memegang secara langsung fisik dari barangnya. Maka, belanja secara online itu membutuhkan tingkat kepercayaan dari konsumen yang lebih besar daripada belanja secara offline


Adapun saya sendiri telah membuat toko online di tokopedia yang bernama Simply Slim. Berikut link untuk ke alamat toko saya; 

https://www.tokopedia.com/simplyslim

Di toko tersebut saya menjual teh pelangsing atau biasa dikenal dengan Detox Tea dan ada juga Baselayer atau pakaian yang biasa digunakan untuk berolahraga sebagai dalaman. Silahkan mampir untuk mengunjungi toko tersebut barangkali ada barang yang sesuai dengan kebutuhan kalian ya! :)

Comments

Popular posts from this blog

5 Peluang Usaha Rumahan Di Masa Pandemi Corona